(Oleh : Rafiqi Tanziel)
Andaikan umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas di negeri ini mengerjakan shalat sebagaimana yang diperintahkan Allah melalui para utusannya, niscaya tidak akan ada yang namanya tindak pidana kriminalitas semisal korupsi dan sejenisnya.
Tidak akan ada lembaga yang menangani kasus tindak kriminal di Indonesia ini, dan uang negara bisa digunakan untuk kemakmuran rakyat dan bukan untuk membuat kaya raya para pejabat. Kanapa mesti dimulai dari Sholat?
Kita tahu, sejarah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Yaitu peristiwa perjalanan Kanjeng Nabi dalam memenuhi undangan Allah Swt. pada saat beliau mendapat tantangan berat dalam dakwahnya. Melalui peristiwa ini Allah Swt. mengobati luka hatinya, menghilangkan kesedihannya dan menghibur duka laranya.
Akibatnya jiwa Muhammad menjadi fresh (segar) dan bahagia kembali. Dalam kondisi jiwa seperti ini kemudian ia kembali ke bumi malanjutkan tugas dakwahnya yaitu menebarkan rahmat Allah Swt. di muka bumi ini. Isra’ Mi’raj tidak hanya memiliki makna individual tetapi juga memiliki makna sosial. Karena Nabi sepulang dari undangan Isra’ Mi’raj itu membawa perintah mengerjakan shalat lima waktu pada umatnya yang awalnya sebanyak 50 kali dalam sehari semalam.
Bagaimana bila yang mendapatkan hambatan dakwah itu kita? Bagaimana bila yang mendapat kesusahan dan penderitaan itu kita? Apakah bagi kita masih ada peluang diisra’kan dan dimi’rajkan juga seperti Nabi Muhammad Saw? Jawabannya, tentu tidak mungkin. Lantas apa yang mesti dilakukan bila semua itu terjadi pada kita?Laksakan Shalat! Inilah jawaban yang diberikan oleh Nabi kita Muhammad Saw.
Isra dan mi’raj adalah salah satu mu’jizat Nabi Muhammad Saw. Artinya itu hanya diberikan kepadanya tidak mungkin diberikan kepada manusia biasa. Namun demikian, berdasarkan petunjuknya ada amalan bagi orang-orang yang beriman yang memiliki fungsi sama dengan Mi’raj yaitu ibadah shalat. “Shalat itu mi’rajnya orang yang beriman (ash-shalatu mi’rajul mu’minín)” sabdanya.
Shalat secara bahasa berarti do’a. Doa pada hakikatnya merupakan bentuk dialog antara manusia dengan Tuhannya. Ketika seseorang shalat, hakekatnya ia sedang bertemu dan berdialog bahkan berdiskusi dengan Allah Swt. Oleh karena itu secara hakiki fungsi shalat dan mi’raj sama, yaitu bertemu dan berdialog dengan Allah Swt..
Shalat yang benar mesti menghasilkan buah yang sama dengan buah Isra’ mi’raj yaitu kesadaran individual dan sosial. Mengerjakan perintah Allah dan menjauhi semua apa yang memang jelas dilarang serta berbuat baik dalam hidup kesehariannya.
Efek samping dari melaksanakan shalat itu sudah jelas adalah mencegah dari perbuatan maksiat. “Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Ankabut (29): 45).
Yang perlu digarisbawahi adalah ‘Shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar’. Pertanyaannya apakah mereka yang melakukan korupsi dan mencuri serta merampok tidak shalat? Kalau memang mereka shalat kenapa mesti melakukan kriminalitas? Padahal dapat dipastikan mereka yang tertangkap mengaku Islam dan shalat.
Sudah jelas jawabannya, meski shalat tapi hanya sebatas rutinitas layaknya bermain futsal untuk olahraga. Bacaan yang dibaca dalam setiap gerak gerik mulai dari takbir sampai mengucap salam tak ada yang membekas. Sehingga usai shalat akan kembali menjadi pribadi yang jauh dari cerminan orang Islam. Padahal sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata.
Sedangkan shalat yang khusyu’ adalah shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Yaitu memahami apa yang diucapkan dalam shalat sehingga melahirkan perasaan ta’zhim (hormat), khauf (takut), haya (malu) terhadap Allah Swt. Kesadaran ini disamping akan mendatangkan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman jiwa, juga akan mampu memotivasi mushalli (orang yang shalat) untuk merealisasikan seluruh janji yang diucapkannya di dalam shalat ke dalam kehidupan sehari-harinya. Sudahkah Anda Shalat Dengan Khusuk,,?
Rafiqi Tanziel, Alumni PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, yang sekarang menjadi Karyawan Karimata FM Pamekasan Madura.
KARIMATA MINGGU
05.00 - 10.00 WIB :
Resonansi PAGI
10.00 - 15.00 WIB :
Resonansi Siang
15.00 - 16.00 WIB :
Resonansi Sore
20.00 - 21.00 WIB :
Legenda Musik Indonesia
19.00 - 01.00 WIB :
Resonansi Malam
Selamat Menikmati